Kh. Abdul Wahab bin Abdullah

 KH. Abdul Wahab bin Abdullah 


Kiai yang satu ini tidaklah semasyhur Kiai-Kiai Jawa Timuran seperti Kiai Abdul Karim Lirboyo dan Kiai Maksum namun perlu diketahui bahwa sebenarnya ia adalah pembobak Desa Lirbiyo yang sekarang dikenal dengan beberapa pondok yang melahirkan banyak orang-orang alim. Ia adalah KH. Abdul Wahab, nama aslinya yaitu Jambari bin Abdullah bin Ahmad bin Abdus Salam bin kongsi, lahir pada tahun 1894 M di Desa Pucangrejo, Pegandon, Kendal dan meninggal pada tahun 1963 M. Setelah menunaikan ibadah haji namanya diganti menjadi Abdul Wahab yang akrab oleh masyarakat setempat dengan panggilan Mbah Wahab. Ia adalah seseorang dari keluarga yang agamis. Setelah dewasa ia mondok di Tebu Ireng dengan berguru kepada Kiai Manaf (Mbah Manaf), kemudian Mbah Wahab diajak temannya yang bernama Kiai Sholeh bersama istrinya yang baru dinikahinya ke suatu daerah dan membobaknya sehingga terbentuklah suatu desa yang sekarang disebut dengan Desa Lirboyo. Kemudian Mbah Wahab dan Mbah Sholeh mendirikan suatu mushola dan pondok kecil di Lirboyo yang kemudian lambat laun santrinya bertambah banyak. Berhubung santrinya sudah bertambah banyak maka Mbah Wahab memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya namun sebelum boyong Mbah Wahab meninggalkan sebuah kenang-kenangan berupa pohon kelapa yang ditanam didepan mushola, yang kemudian mushola tersebut menjadi masjid yang lambat laun mengalami pelebaran dan pembangunan sehingga sekarang pohon kelapa tersebut berada di tengah-tengah masjid karena tidak ada yang berani untuk menebangnya.

Peninggalan lain Mbah Wahab yang ada di Lirboyo yaitu sebuah kamar yang dulu ditempati Mbah Wahab selama di Lirboyo yang mana kamar tersebut sampai sekarang masih utuh karena tidak ada yang berani mengubah-ubah dan jika ada tamu dari Kendal maka tamu tersebut akan dimasukkan ke kamar tersebut untuk mencari barokah melalui peninggalan Mbah Wahab, baru kemudian tamu tersebut dapat berkeliling disana. Setelah Mbah Wahab kembali ke kampungnya Mbah Wahab menikah dan mendirikan sebuah pondok di Desa Gubugsari, Pegandon, Kendal dengan berhijrah dari Desa Pucangrejo ke Desa Gubugsari. Ada juga yang mengatakan selain Mbah Sholeh, Mbah Wahab juga mempunyai teman yang bernama Mbah wali Hadi yang makamnya berada di belakang masjid agung Kendal, namun sepulang dari mondok Mbah wali Hadi diperintah oleh Kiainya untuk mengarang kitab, sedangkan Mbah Wahab diperintah Untuk mendirikan pondok Pada saat itu Mbah Wahab memiliki banyak santri, pada masa pondok tersebut dipegang oleh cucunya, pondok tersebut kurang maju sehingga pondok tersebut sudah tinggal cerita, namun memiliki banyak murid yang mengikuti jalan thariqoh syathoriyah dari kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak, mulai dari desa itu sendiri ataupun dari luar daerah seperti Pekalongan, Batang dan masih banyak lagi.

Mbah Wahab memiliki banyak keturunan yang alim-alim dari beberapa istri. Berikut beberapa istri dan keturunannya:

Dari pernikahannya dengan Nyai Thohiroh mendapat empat keturunan, yaitu:

~ KH. Suyuti yang menikah dengan Hj. Khoiriyah

~ Hj. Fatimah menikah dengan KH. Mustofa(memiliki putra bernama KH. Rosyidi, pendiri pondok pesantren Al-Mustofa di Pandes, Cepring, Kendal)

~ Hj. Rikhaniyah menikah dengan KH. Musyafa’ (pendiri dan pengasuh pondok pesantren Al-Musyafa’ di Kampir, Sudipayung, Ngampel, Kendal)

~ KH. Zuhri menikah dengan Nyai Hj. Solikhah(yang meneruskan pondok yang didirikan mbah Wahab dan yang meneruskan perjuangan mbah Wahab dalam mengajar thgoriqoh syathoriyah)

Dari pernikannya dengan Nyai Thoyyibah memiliki dua keturunan, yaitu:

~ Hj. Muslihah menikah dengan H. Thoha

~ KH. Mudzakir Abdul Wahab menikah dengan Nyai Mudrikah, dengan Nyai Mudrikah memiliki beberapa anak kemudian cerai dan menikah lagi dengan Nyai Mahmudah namun tidak dikaruniai anak

Dari pernikahannya dengan Nyai Sarmi, memiliki dua keturunan, yaitu: Hj. Mas’adah dan Masruh.


Adapun kelebihan dari KH. Abdul Wahab yaitu dapat menangkal berbagai macam santet dan ilmu hitam lainnya, yang mana kiriman macam-macam santet dan ilmu hitam yang dituju kepadanya semuanya akan masuk kedalam kitab-kitab yang dimilikinya. Kelebihan lain yang dimiliki Mbah Wahab yaitu dapat mencegah banjir akibat tanggul yang ada di baratnya pasar Pegandon jebol yang mengarah ke Desa Gubugsari dengan melakukan sholat di masjid Gubugsari dan bersujud hingga airnya mengarah ke utara Desa Gubugsari, tidak jadi mengalir ke Desa Gubugsari.


Referensi


Nyai Hj. Sholikhah (Istri KH. Zuhri bin Abdul Wahab atau menantu KH. Abdul Wahab)


#mohonmaafapabilamasihbanyakkekurangannyadansalahkata🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa harus ada Nabi atau Rosul ?